HI SUMMIT, April 2016

HI SUMMIT merupakan sebuah program kerja yang bertujuan untuk mengibarkan nama program studi dan HMHI Universitas Mataram di Puncak Gunung Rinjani. Program kerja ini dilaksanakan untuk memperingati dies natalis HI yang kedua kalinya. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari masing-masing divisi yang ada dalam kepengurusan HMHI UNRAM, setiap divisinya minimal mengutus 2 orang dalam kegiatan ini.

Menurut rencana, kegiatan pendakian Gunung Rinjani dimulai pada tanggal 27 April 2016. Namun kami memulai perjalanan menuju Sembalun pada 26 April 2016 untuk lebih mengefisienkan waktu. Kami baru mulai mendaki sekitar pukul 07.30 waktu setempat sesuai dengan jadwal seharusnya. Saat dalam pendakian, kami tanpa sengaja terbagi menjadi 2 kelompok dikarenakan kemampuan fisik dari masing-masing kami yang berbeda.

Pada hari pertama dalam pendakian, kami dihadapkan dengan kondisi cuaca yang cukup tidak bersahabat, sempat beberapa kali turun hujan deras dengan diikuti kabut tebal. Ini cukup mempersulit kami dalam melanjutkan perjalanan, sehingga pada hari itu kami beristirahat dan membangun kamp di salah satu bukit mendekati pos 3 pendakian. Hari pertama, pendakian kami cukupkan hingga pukul 8 malam.

Pada hari kedua, kami kembali melanjutkan perjalanan sekitar pukul 9 pagi, usai sarapan dan kembali berkemas. Pada hari kedua ini, rute pendakian yang kami lewati dapat dikatakan sebagai rute pendakian yang paling sulit, terjal, dan melelahkan sebelum tiba di pos terakhir atau yang dikenal dengan nama pelawangan. Di hari itu kami harus mendaki bukit penyesalan, dimana menurut pendapat orang-orang sekitar dan yang sebelumnya pernah mendaki Gunung Rinjani sebagai tempat orang-orang mulai merasa putus asa dan pada akhirnya memutuskan untuk kembali turun. Tidak heran ada pendapat yang mengatakan demikian, karena bukit penyesalan ini memiliki kemiringan yang cukup ekstrim dan terdiri dari deretan bukit yang begitu banyak dan masing-masing memiliki ketinggian yang cukup membuat lutut lemas dengan kondisi tanah yang sedikit berkerikil. Setelah mendaki sekitar 6 jam lamanya, kami semua baru tiba di Pelawangan dan membangun tenda kami disana, karena tidak memungkinkan bagi kami untuk langsung melanjutkan perjalanan ke puncak disaat itu juga. Malam di pelawangan sangatlah berkesan, kami bersama dengan ratusan bahkan mungkin ribuan pendaki lain yang berasal dari berbagai negara saling berdampingan satu sama lain dalam tenda masing-masing.

Hari berikutnya, pukul 02.00 dini hari kami sudah kembali bersiap untuk melanjutkan pendakian menuju puncak. Hampir semua pendaki lain yang ada juga berangkat pada waktu yang sama. Menurut salah seorang anggota HMHI yang pada saat itu ikut mendaki bersama kami, rute pendakian yang ada sekarang sudah sangat berbeda dengan 4 tahun sebelumnya. Jalur pendakian dan kontur tanahnya sudah mengalami banyak perubahan. Jika dulu awal pendakian dari pelawangan masih berupa tanah padat dan berumput, pada saat kami mendaki pada saat itu sudah berubah menjadi tanah gembur berkerikil dan bercampur pasir. Padahal seharusnya rute yang demikian baru akan kami temui di jarak yang tidak begitu jauh dari puncak. Ini membuat proses pendakian menjadi lebih berat dari sebelumnya. Namun beruntunglah hal tersebut tidak menyurutkan semangat kami.

Akibat dari keadaan jalur pendakian yang cukup berat, beberapa dari kami terpaksa harus tertinggal dan melanjutkan pendakian dengan selisih waktu cukup jauh di belakang yang lainnya. Namun tekad yang besar untuk menggapai puncak dan menjalankan misi kami, membuat perjalanan yang melelahkan tersebut tidak begitu berarti rasa lelahnya. Meskipun terpisah dan tidak dapat mencapai puncak di waktu yang bersamaan, beberapa dari kami berhasil mengibarkan nama Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mataram beserta HMHI UNRAM di Puncak Rinjani dengan ketinggian 3726 mdpl, atau puncak tertinggi ketiga di Indonesia. Merupakan suatu kepuasan dan kebanggan tersendiri untuk berada disana pada saat itu.

Mengingat terbatasnya waktu dan luas permukaan puncak yang tidak terlalu luas, kami harus segera turun untuk bergantian dengan pendaki lainnya yang ingin mencapai misi mereka dan sekaligus menikmati keindahan yang disuguhkan Sang Maha Pencipta. Waktu tempuh menuruni puncak jauh lebih singkat daripada saat dalam pendakian, hampir dua kali lebih cepat. Meski disaat menuruni puncak kami sempat diterpa badai untuk sesaat, tapi kami semua berhasil tiba kembali di tenda yang kami tinggalkan di Pelawangan. Sesampainya di Pelawangan kami semua beristirahat untuk kembali memulihkan keadaan usai pendakian menuju puncak yang dimulai dini hari sebelumnya.

Usai istirahat beberapa jam, kami melanjutkan perjalanan untuk turun dikarenakan jumlah persediaan makanan kami yang hampir habis. Memulai perjalanan turun sekitar pukul 17.00, kami terus menyusuri dan menuruni Rinjani melalui bukit penyesalan dalam gelap. Kami tiba di pos 3 sekitar pukul 21.00 WITA dan semalam menginap disana. Keesokan harinya kami menikmati makan bersama terakhir kami di atas Rinjani, sekaligus memakan persediaan makanan terakhir yang kami bawa. Meski pada saat itu ada beberapa dari kami yang daya tahan tubuhnya mulai menurun akibat kelelahan, namun kami tetap melanjutkan perjalanan menuju sembalun. Akhirnya, kami tiba di Sembalun sekitar pukul 16.00 WITA dan melanjutkan perjalanan kembali menuju Mataram. Dengan ini, HI SUMMIT resmi tercapai dan berakhir pada 30 April 2016.

Tinggalkan Balasan