Berita

Program Studi Hubungan Internasional UNRAM Helat Semnas Kemaritiman

Semnas 1

Menyadari potensi secara geografis sebagai sebuah Archipelagic State dan potensi Sumber Daya Laut yang dimiliki, Presiden Jokowi mencanangkan sebuah konsep Poros Maritim Dunia yang bertujuan mengembalikan kejayaan laut Indonesia. Ditengah Asia Pacific’s Century Indonesia harus mampu menjadi bukan hanya sebagai negara penonton tetapi mempunyai peran besar didalamnya. Sebagai upaya untuk mendukung ide pemerintah dalam menyusun rancang strategis sekaligus menjadi wadah menyalurkan gagasan maka dari hal tersebut program Studi Hubungan Internasional Universitas Mataram bersama dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut (LANAL) Mataram menyelenggarakan Seminar Nasional dengan Tema “Geostrategis Indonesia di Kawasan Asia Pasifik dan Implementasi Poros Maritim”. Seminar nasional ini selenggarakan hari Kamis, 9 November 2017 yang bertempat di Gedung Rektorat Universitas Mataram dengan jumlah peserta sebanyak 263 orang yang terdiri dari pelbagai kalangan diantaranya perwakilan dari TNI AL, TNI AU, Dit Polair Polda NTB, Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan, Pelindo, Dinas Kelautan dan Perikanan prov NTB,  akademisi yaitu dosen dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di NTB dan luar NTB, NGO, stakeholder, hingga guru tingkat sekolah menengah atas se-Pulau Lombok. 

Dalam seminar ini menghadirkan tiga orang pembicara; yaitu yang pertama Panglima Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur: Laksamana Muda TNI Darwanto, S.H., M.A.P. yang diwakilkan oleh Komandan Gugus Keamanan Laut Timur; Kol Laut (P) Agus Hariadi, pembicara kedua seorang pengamat militer dan pertahanan ibu Dr. Connie Rahakundini Bakrie dan narasumber ketiga adalah Dr. Zunnuraini, S.H., M.H. selaku dosen hukum internasional Universitas Mataram.  

Isu kemaritiman bukan hanya menjadi kajian akademisi dalam bidang kelautan dan perikanan, namun semua aspek studi baik ekonomi, sosial dan politik mempunyai kewajiban yang sama untuk memahami konsep negara maritim berikut potensi dan tantangannya. sehingga seminar ini memang diselenggarakan tidak hanya ditujukan untuk akademisi dari prodi Hubungan Internasional saja tetapi untuk semua kalangan yang secara bersama memiliki tugas untuk melihat laut sebagai basis kesejahteraan. 

Kol Laut (P) Agus Haryadi sebagai pemateri dalam seminar ini mengungkapkan bahwa awalnya semboyan Jalesveva Jayamahe yang memiliki makna Di Lautan Kita Berjaya hanyalah semboyan yang berlaku di kalangan TNI Angkatan Laut saja, namun oleh Presiden Jokowi ini dijadikan semacam perintah kepada seluruh pihak untuk bekerja membangun Indonesia dari sektor kemaritiman dan sudah saatnya bagi Indonesia untuk keluar dari orientasi agraris. 

Kolonel Agus juga mengingatkan bahwa pentingnya untuk menjaga stabilitas di kawasan perairan Indonesia mengingat Indonesia memilki 4 Choke Point penting dunia yang merupakan jalur pelayaran internasional, yang salah satunya adalah Selat Lombok. Karena apabila itu sampai terputus semisal diblokade oleh pihak tertentu maka akan sangat mengancam perekonomian Indonesia dan negara-negara industri maju. Untuk itu penting bagi negara kita dapat meningkatkan pertahanan dan keamanan di wilayah perairan.  

Selaras dengan Kol Laut (P) Agus Hariadi, Dr. Connie Rahakundini yang juga mengungkapkan bahwa membangun kekuatan Indonesia di laut merupakan hal yang penting mengingat kepentingan terbesar Indonesia saat ini berada di laut. Mengutip apa yang disampaikan oleh Dr. Connie Rahakundini mengenai pendapat pakar hukum laut bahwa negara maritim tidak sama dengan negara kepulauan, karena negara maritim adalah yang mampu memanfaatkan lautnya meski negara tersebut tidak memiliki laut tetapi didukung dengan kepemilikan ilmu pengetahuan, peralatan, teknnologi, dalam mengelola dan memanfaatkan laut dari sisi ruang, kekayaan alam maupun letak.  

Sebagai tambahan, Ia menegaskan bahwa negara maritim memerlukan angkatan laut yang mumpuni karena dengan hal tersebut Negara akan mampu untuk meredam konflik, memenangkan diplomasi, memenangkan perang sumber daya, dan fokus menjawab hal yang besar. Karena ia meyakini bahwa sebuah negara tidak mungkin menjadi negara yang hebat dan kuat tanpa disokong pembangunan kekuatan militer yang kuat. Dr. Connie juga mengajak seluruh pihak untuk sadar bahwa kita adalah bangsa maritim. Mengingat sejarah panjang nenek moyang bangsa Indonesia mulai dari Sriwijaya hingga Banten dulu sangat berjaya di laut. Untuk itu, perlu bagi kita membangun kesadaran bahwa kembali menjadi bangsa yang besar dengan memaksimalkan potensi sumber daya laut kita, membangun mental dan moral untuk berinovasi menjadi bangsa pemenang yakni bangsa maritim hebat dan digdaya. 

Dengan diadakannya seminar ini selain menjadi ruang ilmu juga diharapkan berbagai elemen masyarakat dapat lebih aktif berpartisipasi untuk membangun kesejahteraan bersama di bidang kemaritiman. Selain itu, seminar ini dapat menjadi inspirasi bagi para akademisi untuk menghasilkan riset-riset terbaru guna menjadi masukan kepada pemerintah untuk menyelesaikan tantangan kemaritiman di Indonesia.

HMHI UNRAM Bahas Isu Kemanusiaan Rwanda Melalui Film dalam Kegiatan International Relations Monthly Discussion

IRMD 1

International Relations Monthly Discussion (IRMD) kembali digelar oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mataram untuk mengundang seluruh civitas akademika Hubungan Internasional UNRAM duduk bersama dalam satu forum membahas isu-isu penting dalam ranah HI. Kegiatan IRMD kali ini digelar pada hari Sabtu, 23 September 2017 di Ruang 3.3, Gedung Soebiyanto, FISIP UNRAM dengan dihadiri oleh sekitar 45 mahahsiswa HI UNRAM dari berbagai angkatan. Namun sayangnya kegiatan IRMD pertama di semester ini hanya dihadiri oleh Bapak Ahmad Mubarak Munir, S.IP., M.A. selaku perwakilan dari pihak dosen. Awalnya kegiatan ini direncanakan dimulai pada pukul 13.00 WITA, namun oleh pihak HMHI terpaksa diundur hingga 13.15 mengingat jumlah peserta yang hadir terlalu sedikit. Meskipun begitu hal tersebut tidak menyurutkan pihak HMHI selaku penyelenggara untuk mempersiapkan kegiatan ini sebaik mungkin.

IRMD bulan ini hadir kembali dengan membawa isu yang sebenarnya tidak terlalu baru namun oleh HMHI  dikemas dengan konsep yang cukup menarik. Para peserta IRMD kembali diajak mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994 melalui sebuah film keluaran tahun 2004 karya sutradara Irlandia Terry George berjudul Hotel Rwanda. Perlu untuk diketahui bahwa Film Hotel Rwanda diadaptasi dari sebuah kisah nyata melalui perspektif seorang petugas hotel beretnis Hutu bernama Paul Rusesabagina yang di saat tragedi genosida di Rwanda tengah bergejolak, ia berusaha menyelematkan keluarga, rekan-rekannya dan lebih dari seribu pengungsi beretnis Hutu dan Tutsi dari ancaman pasukan militer Interahamwe yang merupakan sebuah organisasi paramiliter Hutu. Tragedi kemanusiaan di Rwanda kala itu cukup mendapat perhatian komunitas internasional hingga memaksa PBB sebagai organisasi internasional yang berperan menjaga perdamaian dunia turun tangan guna mengembalikan stabilitas di Rwanda.

Meskipun peristiwa memilukan tersebut telah berlalu selama lebih dari dua dekade dan kondisi Rwanda saat ini boleh dikatakan sudah cukup stabil, konflik di Rwanda masih menjadi perbincangan menarik khususnya di kalangan akademisi Hubungan Internasional. Tragedi kemanusiaan di Rwanda kaitannya dengan studi ke-HI-an dapat memberikan pengajaran kepada kita tentang bagaimana disparitas (perbedaan) politik, ekonomi, dan sosial antar kelompok dapat memicu terjadinya konflik, memahami bahwa konflik di Rwanda merupakan kategori tindakan genosida berdasarakan hukum internasional, bagaimana intervensi kemanusiaan oleh PBB itu berkerja, dan tentunya memberikan pemahaman tentang tahapan-tahapan resolusi konflik.

Ketua Umum HMHI Hasbi Asshiddiqi saat ditemui dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa film Hotel Rwanda sangat direkomendasikan oleh para dosen untuk disaksikan oleh segenap mahasiswa Hubungan Internasional. Tidak hanya sekadar untuk menikmati jalan cerita ataupun sinematografinya saja, namun diharapkan mahasiswa HI dapat memetik pelajaran serta menangkap pesan dalam film tersebut sehingga dapat diimplementasikan dalam kegiatan akademik nantinya.

“Film Hotel Rwanda itu memuat banyak sekali subyek dari studi Hubungan Internasional. Dia (Film Hotel Rwanda) menyangkut konflik, resolusi konflik, terus peran negara lain dalam konflik sebuah negara, terus peran PBB, dan bagaimana hubungan antarnegara itu juga ikut terlibat dalam konflik.” Ujarnya.

Seusai pemutaran film dan diselingi dengan coffee break, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dibuka oleh Hasbi. Ide pemutaran film peristiwa ke-HI-an sebagai studi kasus dalam diskusi kali ini nampaknya berhasil mendobrak kuriositas para peserta diskusi. Para peserta diskusi nampak sangat mudah menyerap inti permasalahan dari isu yang tengah dibahas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya antusiasme peserta dari seluruh angkatan untuk menyampaikan argumen serta sudut pandang mereka menganai isu ini. Ada yang berpendapat bahwa tragedi ini muncul akibat kecemburuan sosial, namun tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa ini terjadi akibat tidak adanya tenggang rasa antara kaum mayoritas dengan minorotas. Lalu ada yang mengaitkan isu ini dengan agenda setting  kaum imprealis,  mengaitkannya dengan isu kesetaraan dan keadilan hingga mempertanyakan peran PBB sebagai pemelihara perdamaian.

Meskipun diskusi ini tidak diwarnai dengan adu argumen yang alot, namun setidaknya keberanian para peserta dalam menyampaikan ide, gagasan, serta argumennya mengenai isu yang tengah dibahas dalam forum diskusi semacam ini layak untuk diberi apresiasi.  Khususnya bagi angkatan 2017 yang berani berargumen meski baru mencicipi ilmu-ilmu dasar dari Hubungan Internasional. Setidaknya inilah pujian yang dilontarkan Bapak Ahmad Mubarak Munir yang merupakan satu-satunya perwakilan dosen yang menghadiri kegiatan ini. Beliau juga memuji kinerja panitia yang sukses membuat suasana diskusi tetap kondusif dan berjalan dengan baik. Beliau juga berharap kegiatan semacam IRMD atau forum-forum diskusi lebih sering digalakkan oleh mahasiswa HI UNRAM, mengingat melalui forum diskusilah mahasiswa HI dapat melatih kemampuan berbicara dan berargumentasinya. Selain itu beliau juga menambahkan bahwa melalui forum diskusi mahasiswa HI dapat menyerap ragam ilmu dari berbagai pihak sehingga akan membuat mahasiswa menjadi lebih berpikiran terbuka. Beliau berharap jika kegiatan IRMD rutin diadakan tiap bulannya sebagaimana nama dari kegiatan tersebut. (SH)

Membangun Solidaritas Melalui FISIP BERIMAN (Buka Bersama Himpunan)

          Sebuah kegiatan yang memperkuat tal silaturahmi antar prodi telah dilkasanakan kemarin, hari Kamis, 15 Juni 2017. Kegiatan tersebut adalah kegiatan FISIP BERIMAN (Buka Bersama Himpunan) yang bertemakan “Build Our Solidarity Through Sharing” dan berlangsung di ruang 3.2 lantai 3 gedung Soebiyanto. Sebagaimana tema yang diangkat, kegiatan buka bersama ini memang bertujuan untuk meningkatkan rasa solidaritas, kekeluargaan, serta kekompakan antar prodi di FISIPOL, yaitu prodi Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, dan Sosiologi supaya kedepannya dapat terjalin suatu hubungan yang lebih harmonis sehingga kedepannya dapat dilakukan semakin banyak lagi kerja sama.
Dengan tema yang diangkat maka tentunya buka bersama diisi dengan obrolan santai dan pendekatan serta pengenalan satu sama lain sehingga dapat menjalin keakraban. Para kepala himpunan (kahim) juga terlihat begitu serius mendiskusikan rencana-rencana bersama kedepannya. Oleh karenanya secara keseluruhan kegiatan ini berjalan dengan lancer dan penuh keharmonisan. Semoga kegiatan-kegiatan bersama seperti ini dapat terus dilaksanakan kedepannya.

Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HMHI)
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMIKOM)
Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASOS)

Event HI UNRAM: Strategic Thinking dalam Kajian Hubungan Internasional Bersama Direktur PWNI BHI Kementerian Luar Negeri Indonesia

                     Kuliah Umum yang diisi oleh Dr. Lalu Muhammad Iqbal, Direktur PWNI BHI Kementrian Luar Negeri Indonesia dengan tema “Strategic Thinking dalam Kajian Hubungan Internasional” telah terlaksana pada 29 Maret 2017 bertempat di Ruang Senat lt. 3 Gedung Rektorat Universitas Mataram dan dihadiri oleh 200 peserta yang terdiri atas mahasiswa/i dan dosen. Stratregic studies yang merupakan “basic understanding” terhadap sesuatu yang interdisciplinary, dimana tidak ada batasan sudut pandang atas kajian keilmuan.Lalu multicausal, dimana suatu peristiwa disebabkan okeh banyak faktor, tidak hanya pada 1 penyebab saja. Cycles of history, dimana sejarah berkemungkinan akan terulang di masa depan, sehingga kejadian lampau dapat menjadi pelajaran untuk yang akan datang, dan yang terakhir long term and forecasting, yaitu cara berpikir jangka panjang sehingga dapat ‘memprediksi’ apa yang dapat terjadi di masa depan.

          Terdapat beberapa konsep strategic, diantaranya Nation’s DNA, Margin of Error, serta Global Paradox. Nation’s DNA merupakan ‘jati diri’ dari suatu negara, yang tidak akan mudah berubah. Margin of Error yang merupakan kesalahan yang dibuat oleh suatu negara dalam mengambil keputusan. Semakin besar margin of error suatu negara, maka negara akan semakin berani mengambil keputusan walaupun kemungkinan terjadi kesalahan besar, karena dampaknya sedikit. Begitu pun sebaliknya, saat margin of error negara kecil, maka negara akan semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan dan membuat kesalahan, karena akan dapat berdampak besar pada negaranya. Lalu yang ketiga adalah Global Paradox, yang menyatakan bahwa semakin besar suatu sistem, maka yang menjadi komponen penting adalah hal-hal kecil yang ada didalamnya.

Kuliah Umum dari Ibu Menteri Luar Negeri Indonesia di Universitas Mataram

Pada hari Jumat, 31 Maret 2017 Universitas Mataram kedatangan tamu spesial dari Kementrian Luar Negeri Indonesia, yaitu Ibu Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Ibu Retno melakukan kunjungan sembari memberikan kuliah Umum di ruang senat lantai 3, gedung rektorat Universitas Mataram. Kuliah umum yang bertemakan ”Politik Luar Negeri Indonesia dan Peluang Kerjasma Internasional” dihadiri oleh 300 civitas akademika Universitas Mataram, termasuk para staf dosen mahasiswa. Kuliah Umum dimulai sekitar pukul 10.00 WITA dengan diberi sambutan langsung oleh rektor Universitas Mataram, Bapak Prof. Ir. H. Sunarpi, Ph. D.

Usai sambutan tersebut, langsung dilanjutkan dengan oenyampaian materi dari Ibu Retno Marsudi. Materi diawali dengan penyampaian 4 prioritas politik luar negeri Indonesia pada saat ini, yaitu (1)Menjaga Keutuhan dan Kedaulatan NKRI, (2)Meningkatkan Perlindungan WNI dan BHI, (3)Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan dan Internasional, (4)Meningkatkan Diplomasi Ekonomi. Terkait keutuhan dan kedaulatan NKRI, Ibu Retno menjelaskan bahwa Indonesia harus menjadi negara yang memiliki integritas tinggi dan tidak dapat berkompromi bagi negaa yang mengganggu integritas dan kedaulatan Indonesia. Kemudian pada poin perlindungan WNI dan BHI, Indonesia telah melakukan berbgaia upaya untuk melindungi WNI yang ada di negara lain, terutama para TKI. Indonesia telah menerapkan proses birokrasi yang lebih dipermudah bagi para calon TKI yang akan bekerja di luar negeri supaya tidak ada lagi pekerja ilegal yang ada di luar negeri. Selanjutnya meningkatkan peran Indonesia di kawasan dan Internasional, yaitu dengan melihat potensi yang ada di kawasan ASEAN agar Indonesia menjadi negara yang dapat mendominasi di kawasan. Poin terakhir adalah diplomasi ekonomi sebagai hal yang paling utama dalam setiap kepentingan nasional tiap negara. Diplomasi ekonomi Indonesia melihat potensi yang ada di pasar asean dimana Indonesia harus dapat memasarkan produknya ke negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Selain melihat potensi ekonomi di kawasan, Indonesia juga harus dapat membangun sebuah ekonomi yang terbuka dan kompetitif agar dapat bersaing dengan negara-negara lainnya. Namun hal yang harus digarisbawahi adalah dalam setiap pengambilan kebijakan luar negeri, pemerintah harus memperhatikan kondisi domestik negaranya mengingat 70% perumusan politik luar negeri suatu negara dipengaruhi oleh kondisi domestiknya. Di akhir materi juga disampaikan isu-isu tentang politik luar negeri Indonesia, Ibu Retno juga menyampaikan berbagai isu isu yang tengah berkembang saat ini, seperti pembangunan yang dilakukan di daerah-daerah timur yang pada pemerintahan sebelumnya selalu memfokuskan di daerah barat.

Penyampaian materi selama sekitar 30 menit tersebut dilanjutkan dengan sesi diskusi berupa tanya jawab antara civitas akademika dengan Ibu Retno Marsudi. Penanya berasal dari dosen dan juga mahasiswa yang menanyakan berbagai isu terkait materi yang sudah di sampaikan, mulai dari isu TKI, separatisme di Papua, hingga isu privatisasi yang semuanya di jawab dengan lugas dan jelas oleh Ibu Retno Marsudi.

Dengan terjawabnya semua pertanyaan pada sesi diskusi maka menandakan berakhirnya kuliah umum tersebut pada pukul 11.30 WITA dengan ditutup oleh sesi foto bersama. Namun sebelum meninggalkan Universitas Mataram, Ibu Retno menyempatkan diri untuk menyampaikan pesan motivasi kepada mahasiswa Hubungan Internasional untuk tetap bersemangat dan terus mengasah diri agar dapat bergabung dengan barisan diplomat Republik Indonesia, karena Indonesia membutuhkan para diplomata yang cerdas dan memiliki integritas yang tinggi.

Kunjungan Duta Besar Korea Selatan Untuk Indonesia ke Universitas Mataram

             Universitas Mataram pada hari Selasa, 30 Mei 2017 kedatangan seorang tamu yang sangat istimewa, yaitu duta besar Korea Selatan untuk Indonesia yang bernama Cho Tae Young. Beliau datang ke Universitas Mataram untuk memberikan sebuah kuliah umum yang bertajuk “Korea-Indonesia Relations & Situation on the Korean Peninsula”. Kuliah umum tersebut dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing fakultas di Universitas mataram, baik mahasiswa maupun dosen. Tepat pukul 10.00 WITA kuliah umum dibuka oleh sambutan dari rector Universitas Matara, Prof. Ir. H. Sunarpi, Ph. D. dengan mengucapkan rasa terimkasih atas kehadiran Cho Tae Young sekaligus memperkenalkan Universitas Mataram secara umum kepada beliau.

              Selesai sambutan dari rector, duta besar Korea Selatan untuk Indonesia mulai memperkenalkan diri sebelum memulai materinya. Perkenalan dilakukan dengan santai dan humoris dimana dalam sela-sela perkenalannya Cho Tae Young sempat menyanyikan beberapa lagu Indonesia yang tentu membuat para peserta kuliah umum terkagum-kagum dan terhibur.Cho Tae Young bercerita bagaimana menyenangkannya berada di Indonesia sebagai duta besar selama tiga tahun terakhir dan menghapal beberapa lagu dari Indonesia dalam kurun waktu tersebut.

         Setelah perkenalan yang berlangsung ramah dan menyenangkan tersebut, Cho Tae Young memulai kuliah umumnya terkait hubungan antara Korea Selatan dengan Indonesia serta situasi yang terjadi di semenanjung Korea. Pembahasan pertama terkait hubungan antara Korea Selatan dengan Indonesia, ia menjelaskan bahwa kedua negara ini memiliki hubungan yang sangat baik yang dimulai sejak 18 September 1973, awal kerja sama antara Korea Selatan dengan Indonesia terlaksana. Kemudian hingga kini hubungan tersebut semakin meningkat dan membaik ditandai dengan berbagai kerja sama dan perjanjian yang telah dilakukan kedua negara, terutama terkait kerja sama dalam bidang pertahanan. Cho Tae Young menjelaskan bahwa Indonesia mitra dagang Korea Selatan di bidang pertahanan karena Indonesia telah member berbagai alat tempur dari Korea Selatan. Selain itu kedua negara juga tengan bekerja sama dalam sebuah projek untuk memproduksi sebuah jet tempur antara tahun 2014-2026 yang nantinya akan dijual ke beberapa daerah di Asia. Disamping bidang pertahanan, kedekatan kedua negara ini terlihat dalam organisasi yang mereka ikuti, yaitu MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, Australia). Organisasi tersebut merupakan kerja sama antara kelima negara tersebut yang merasa bahwa mereka berlima sama-sama merupakan negara middle power dalam kehidupan global saat ini. Ada beberapa tujuan dari organisasi tersebut, pertama untuk memperkuat kekuatan kelima negara sebagai negara middle power. Kedua adalah untuk ikut berkontribusi dalam berbgaia permaslahan atau isu internasional yang tengah terjadi, baik isu HAM, nuklir, dan lain sebagainya. Perlu diketahui pula bahwa Indonesia dan Korea Selatan adalah dua negara yang cukup dipertimbangkan sebagai negara dengan kekuatan besar dalam organisasi tersebut.

         Pembahasan selanjutnya, yaitu mengenai kondisi yang terjadi di semenanjung peninsula, yaitu semenanjung yang membagi antara Korea Selatan dan Korea Utara. Cho Young Tae memulai materi dengan menjelaskan sejarah awal terbaginya korea menjadi Korea Utara, yang menganut system komunisme dan Korea Selatan yang menganut system liberal kapitalis. Kemudian baru dijelaskan bahwa kondisi di semenanjung tersebut sangatlah rawan karena Korea Utara tengah mengembangkan senjata nuklir yang sewaktu waktu dapat membahayakan berbagai hal di dekat semenanjung tersebut. Cho Young Tae juga menjelaskan bahwa pengembangan nuklir tersebut telah mendapat kecaman keras dari negara-negara di dunia, tidak hanya Korea Selatan saja, yang meminta Korea Utara untuk menghentikannya. Kecaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian sanksi kepada Korea Utara yang tetap saja tidak ingin menghentikan percobaan tersebut. Selanjutnya Cho Youn Tae juga membahas berbagai kerja sama yang coba dilakukan oleh Korea Selatan dengan Korea Utara untuk membentuk suatu hubungan yang lebih baik.

             Penyampaian materi yang disampaikan dalam bahasa Inggris tersebut berlangsung sekitar 45 menit yang kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab dari para peserta. Baik mahasiswa maupun dosen banyak sekali yang mengangkat tangan dan ingin bertanya namun hanya 4 orang yang mendapat kesempatan untuk bertanya. Keempat orang tersebut adalah yang beruntung mendapat bingkisan kecil dari Cho Tae Young di penutupan kegiatan perkuliahan. 3 dari penanya tersebut berasal dari prodi Hubungan Internasional Universitas Mataram, 2 orang mahasiswa dan 1 orang dosen. Sebuah kehormatan dapat berdialog dengan duta besar Korea Selatan untuk Indonesia. Di akhir perkuliahan kemudian ditutup dengan sesi berfoto bersama dengan Cho Tae Young.

Sosialisasi Magang Hubungan Internasional Universitas Mataram

            

              Para mahasiswa Hubungan Internasional semester IV dan VI kini tengah disibukkan dengan persiapan magang yang akan dilaksanakan selama satu bulan dalam waktu terdekat. Untuk memberi pengarahan dan penjelasan lebih lanjut tentang kegiatan magang tersebut maka pada pada hari rabu, tanggal 24 Mei 2017 pukul 13.00 WITA di ruang 3.3 gedung Soebiyanto, Universitas Mataram diadakan sebuah sosialisasi magang oleh program studi Hubungan Internasional bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HMHI) Universitas Mataram. Sosialisasi yang sama sebenarnya telah dilakukan beberapa bulan yang lalu namun sosialisasi tersebut hanya diikuti oleh mahasiswa semester VI sehingga diperlukan sosialisas kembali khususnya untuk para mahasiswa semester IV yang akan mulai melaksanakan kegiatan magang sekitar bulan Januari hingga Februari mendatang.

         Dalam sosialisasi tersebut dibuka oleh ketua prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Mataram, bapak Dr. Muhammad Sood, SH., MH. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian beberapa hal penting terkait kegiatan magang oleh salah seorang dosen HI Universitas Mataram, yaitu Ibu Mala Mardialina, S.IP, MA. Pada kesempatan tersebut Ibu Mala menjelaskan tentang persyaratan administratif untuk melakukan magang, yaitu mahasiswa minimal harus telah menyelesaikan 110 SKS dari perkuliahannya. Kemudian dilanjutkan dengan mekanisme atau masalah teknis dalam administrasi untuk mengajukan lamaran magang. Setiap mahasiswa yang telah menentukan tempat untuk magang diwajibkan untuk meminta surat terlebih dahulu dari prodi sebagai surat pengajuan yang nantinya akan diserahkan kepada tempat yang menjadi tujuan magang tersebut. Kemudian mahasiswa akan mendapat surat konfirmasi dari tempat tujuan yang menandakan bahwa mahasiswa tersebut resmi diterima untuk magang di tempat tersebut. Selama kegiatan magang para mahasiswa juga diwajibkan untuk menuliskan laporan dari kegiatan magang mereka selama sebulan atau lebih.

           Sosialisasi yang berlangsung sekitar satu setengah jam tersebut tidak hanya untuk membahas berbagai masalah tekhnis tentang magang namun untuk memastikan kembali berapa jumlah mahasiswa semester VI yang telah resmi akan melaksanakan kegiatan magang dalam waktu dekat sehingga mahasiswa lain yang masih mencari tempat tujuan magang dapat didata kembali dan berkonsultasi dengan para dosen mengenai kendala dalam mencari tempat tujuan magang. Dari sosialisasi tersebut telah didata bahwa terdapat 6 kelompok mahasiswa, yang masing-masing terdiri dari 4 sampai 6 orang per kelompok yang telah diterima untuk magang di berbagai daerah, baik di dalam maupun di luar negeri. Masing-masing kelompok kemudian didampingi oleh satu dosen pembimbing masing-masing yang nantinya akan menjadi tempat konsultasi tersebut.

Event HMHI UNRAM: International Relations Introduction and Try Out (INTRO)

Beberapa minggu menjelang SBMPTN Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional yang bekerja sama dengan salah satu program bimbel di Mataram, SSC (Sony Sugema College) berhasil melaksanakan kegiatan International Relations Introduction and Try Out (INTRO) di gedung FISIPOL Universitas Mataram pada hari Minggu, 23 April 2017. INTRO merupakan sebuah kegiatan yang tidak hanya memberikan fasilitas Try Out SBMPTN melainkan juga pengenalan terhadap program studi Hubungan Internasional sehingga peserta yang memang berminat mengambil jurusan Hubungan Internasional kedepannya dapat menambah wawasannya melalui kegiatan INTRO tersebut. Kegiatan ini juga disponsori oleh Youcan Indonesia.

Kegiatan INTRO diikuti oleh 102 peserta dari berbagai SMA yang ada di Lombok. Seluruh peserta tersebut kemudian dibagi menjadi lima kelas yang diberi nama Oceania, Asia, Amerika, Eropa, dan Afrika untuk mempermudah pelaksanaan Try Out SBMPTN. INTRO sendiri menyediakan fasilitas tes berupa Tes Kemampuan Akademik (TKPA) serta Tes Soshum SBMPTN yang dibagi kedalam dua sesi. Sesi pertama, yaitu TKPA dimulai pada pukul 07.00 WITA hingga 09.15 WITA. Kemudian sesi kedua, yaitu Tes Soshum SBMPTN dimulai sejka 09.45 WITA sampai 11.00 WITA.

Pelaksanaan Try Out berjalan dengan lancar dengan diiringi wajah-wajah serius dari para peserta yang tentunya ingin mendapatkan hasil yang maksimal karena selain mengasah kemampuan mereka dalam menjawab soal-soal SBMPTN, INTRO juga menghadiahkan doorprize bagi 3 peserta dengan nila tertinggi. Setalah melewati jam-jam yang serius dengan menjawab soal-soal, peserta kemudian mendapat kesempatan untuk mendapatkan materi tentang Hubungan Internasional yang disampaikan langsung oleh dua dosen Hubungan Internasional Universitas Mataram , yaitu Ibu Mala Mardialina, S.IP., MA. Dan Ibu Ismah Rustam , S.IP., MA. Materi tentunya disampaikan dengan santai sehingga mudah dipahami oleh peserta. Hal ini terlihat dengan aktifnya peserta bertanya kepada kedua dosen tersebut.

Sesi kuliah tersebut berlangsung sekitar satu jam yang kemudian dilanjutkan ice breaking untuk semakin menambah semangat dan sekaligus memberi hiburan kepada para peserta. Dalam kegiatan ini peserta dihibur dengan penampilan stand up comedy dari salah satu komika dari Lombok, yaitu Lalu Sakti M. Hal ini sangat menghibur peserta dan berhasil mencairkan suasana setelah fokus dan konsentrasi mereka cukup terkuras untuk menjawab soal-soal sebelumnya. Setelah semangat telah terkumpul kembali peserta diajak untuk berkeliling Gedung FISIPOL Universitas Mataram gunamemperkenalkan berbagai fasilitas yang menunjang proses belajar mengajar di FISIPOL Unram. Sesi Class Tour tersebut menjadi penutup dari kegiatan INTRO pada hari itu. Beberapa hari kemudian pengumuman peserta yang mendapat nilai terbaik diumumkan melalui akun instagram HMHI Unram. Peringkat pertama diraih oleh Nadya Adha Ninggara dari SMAN 2 Mataram, peringkat kedua diraih oleh Dewi Cahya Husnul Haq dari SMAN 2 Selong, dan peringkat ketiga diraih oleh Nazhifa Salsabela dari SMAN 1 Mataram. Ketiga peserta tersebut mendapat doorprize dari HMHI Universitas Mataram sebagai hadiah peraih nilai tertinggi pada kegiatan INTRO .

Trainining on Teamwork and Leadership

Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mataram bekerja sama dengan TNI AL Mataram telah berhasil melaksanakan kegiatan TOTAL (Training on Teamwork and and Leadership) pada tanggal 15 – 16 April 2017. Seperti terlihat dalam nama kegiatan tersebut, TOTAL merupakan sebuah latihan kerjasama dan kepemimpinan yang dibantu langsung oleh TNI AL Mataram. TOTAL diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari siswa, mahasiswa, hingga kalangan umum dari berbagai instansi di Lombok dengan jumlah peserta sebanyak 100 orang.

Kegiatan pada hari pertama dilaksanakan pembukaan di markas komando TNI AL Mataram pada pukul 09.30 WITA. Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua panitia, yaitu Elfan Lafindra serta Komandan Lanal Mataram, yaitu bapak Djentayu Suprihandoko, SH. Setelah pembukaan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh beberapa pembicara. Materi pertama membahas tentang kepemimpinan dan keorganisasian serta nasionalisme dan jiwa patriotisme, yang disampaikan oleh Palaksa Gede Padang. Materi selanjutnya terkait manajemen disampaikan oleh bapak Zaid Arsyad Hidayat. Materi terakhir, yaitu kemaritiman disampaikan langsung oleh komandan Lanal Mataram, bapak Djentaya Suprihandoko, SH. Selama penyampaian materi tersebut para peserta sangat aktif bertanya hingga berakhirnya sesi materi dan dilanjutkan dengan waktu istirahat, solat, dan makan (ISOMA).

Tepat pada pukul 14.00 WITA disaat semua kegiatan di Markas Komando TNI AL Mataram telah selesai dilaksanakan, para peserta melakukan perjalanan menuju Lembar untuk mendapatkan pelatihan kepemimpinan di lapangan. Setibanya di Lembar, para peserta yang sudah dibagi menjadi 3 pleton besar dengan dengan satu orang pemimpin di tiap tiap pleton mendapat pengalaman untuk mendirikian tenda pleton yang ukurannya sangat besar. Dengan mendapat pengarahan dari TNI AL dan dibantu oleh para mentor dari HMHI, para peserta sangat antusias melaksanakan kegiatan tersebut.

Hingga malam hari berbagai kegiatan telah terlaksana, mulai dari diskusi kelompok, presentasi kelompok, hingga unjuk kebolehan terkait bakat-bakat yang dimiliki oleh peserta. Kegiatan tersebut ditujukan untuk membangun kekompakan dan rasa kekeluargaan mereka di tambah dengan adanya api unggun yang semakin mempererat suasana. Setelah semua kegiatan selesai peserta dipersilahkan untuk istirahat agar dapat melaksanakan kegiatan pada esok harinya dengan semangat.

Hari ke-dua TOTAL dibuka dengan pelatihan PBB yang didampingi oleh para mentor. Para peserta diajarkan gerakan-gerakan dasar dalam PBB. Tujuan PBB tidak hanya untuk melatih seseorang agar dapat menjadi seorang pengibar bendera namun PBB mengajarkan suatu kekompakan karena menuntut gerakan yang sang sama dan kompak sehingga peserta harus menghilangkan sikap egoisnya agar kekompakan gerakan PBB tersebut dapat dicapai. Setelah PBB selesai, kegiatan selanjutnya yaitu Upacara Bendera dengan petugas-petugas upacara ditunjuk dari para peserta. Usai upacara, dilakukan kegiatan games outdoor, pembongkaran tenda, hingga gerak jalan dan kemudian diakhiri dengan Joy Sailing. Kegiatan Joy Sailing,yaitu kegiatan berlayar menggunakan dua buah kapal perang yang telah disiapkan oleh TNI AL. Sebuah pengalaman luar biasa untuk menutup kegiatan TOTAL di Lembar pada hari itu.

Posts navigation

1 2 3 4 7 8 9