INSIDE SNHI 2019

Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Fisipol Universitas Mataram kembali menggelar acara tahunan berupa seminar nasional. Kali ini dengan tema “Quo Vadis Politik Luar Negeri Indonesia Bebas-Aktif Pemerintahan Presiden Joko Widodo”. Seminar ini diadakan pada hari Selasa, 19 November 2019 yang bertempat di Hotel Lombok Raya dengan menghadirkan dua top speakers, yaitu Dr. Noer Hassan Wirajuda (Menteri Luar Negeri periode 2001-2009) dan Prof. Aleksius Jemadu yang merupakan guru besar Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan. Seminar ini dihadiri oleh mahasiswa beserta para ketua prodi dari masing-masing fakultas Universitas Mataram. Selain itu, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E.,M.Sc. (Gubernur NTB periode 2018-2023) juga turut hadir dalam acara ini.

“Seminar ini merupakan seminar di tahun ke tiga kami. Oleh karena itu, kami ingin mengajak seluruh peserta untuk berdiskusi. Bagaimanakah relevansi dan eksistensi politik bebas-aktif pada era kontemporer”. Ucap Abdurrahman, ketua panitia acara seminar.

Ketua program studi Hubungan Internasional Unram, Dr. Muhammad Sood, SH.,MH., mengungkapkan bahwa seminar ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari kalangan mahasiswa maupun dosen. “Semoga dengan adanya seminar ini, para mahasiswa maupun yang lain dapat menyerap ilmu yang disampaikan oleh para nasarusmber”, ucapnya.

Mengundang Dr. Noer Hassan Wirajuda sebagai pembicara pertama memaparkan bahwa politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif membuat negara dapat memosisikan diri secara tepat dalam konstelasi perpolitikan global sesuai dengan amanat maupun kepentingan bangsa. “Politik luar negeri dilaksanakan melalui diplomasi yang kreatif, aktif, dan antisipatif. Tidak sekadar rutin dan reaktif, teguh dalam prinsip dan pendirian, serta rasional dan luwes dalam pendekatan”, tuturnya.

Sementara itu, guru besar Prof. Aleksius Jemadu dalam seminarnya mengungkapkan beberapa argumen berdasarkan pandangannya tentang politik luar negeri bebas-aktif pada masa pemerintahan presiden Joko Widodo. “Karena ciri multipolaritas dan interdependensi global saat ini, pelaksanaan politik bukan sekadar isu pilihan ideologis antara kubu kapitalisme dan komunisme. Melainkan pembangunan otonomi kapabilitas material sebagai kondisi dasar untuk bebas-aktif dalam hubungan luar negeri”, ungkapnya.

“Ketika dilihat dari pemerintahan Jokowi saat in, bahwa Jokowi lebih cenderung menggunakan politik luar negeri sebagai instrumen untuk mencapai tujuan agenda daripada substantif. Dia tidak ingin berambisi untuk mengubah dunia, dia lebih berfokus kepada kebutuhan domestik negara ini”, tambahnya.

Dalam kegiatan diskusi kali itu, para mahasiswa beserta tamu undangan lainnya diberikan kesempatan untuk menanggapi dan memberikan pertanyaan kepada ke dua narasumber. “Sudah seharusnya mahasiswa dan anak-anak muda bersikap peduli terhadap politik. Kita adalah bangsa yang demokratis, seluruh masyarakat bisa menyampaikan pendapat dan aspirasinya”, tutup Bapak Noer Hassan Wirajuda.

-Zellyn Ayu Fitri