HMHI UNRAM Bahas Isu Kemanusiaan Rwanda Melalui Film dalam Kegiatan International Relations Monthly Discussion

IRMD 1

International Relations Monthly Discussion (IRMD) kembali digelar oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mataram untuk mengundang seluruh civitas akademika Hubungan Internasional UNRAM duduk bersama dalam satu forum membahas isu-isu penting dalam ranah HI. Kegiatan IRMD kali ini digelar pada hari Sabtu, 23 September 2017 di Ruang 3.3, Gedung Soebiyanto, FISIP UNRAM dengan dihadiri oleh sekitar 45 mahahsiswa HI UNRAM dari berbagai angkatan. Namun sayangnya kegiatan IRMD pertama di semester ini hanya dihadiri oleh Bapak Ahmad Mubarak Munir, S.IP., M.A. selaku perwakilan dari pihak dosen. Awalnya kegiatan ini direncanakan dimulai pada pukul 13.00 WITA, namun oleh pihak HMHI terpaksa diundur hingga 13.15 mengingat jumlah peserta yang hadir terlalu sedikit. Meskipun begitu hal tersebut tidak menyurutkan pihak HMHI selaku penyelenggara untuk mempersiapkan kegiatan ini sebaik mungkin.

IRMD bulan ini hadir kembali dengan membawa isu yang sebenarnya tidak terlalu baru namun oleh HMHI  dikemas dengan konsep yang cukup menarik. Para peserta IRMD kembali diajak mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994 melalui sebuah film keluaran tahun 2004 karya sutradara Irlandia Terry George berjudul Hotel Rwanda. Perlu untuk diketahui bahwa Film Hotel Rwanda diadaptasi dari sebuah kisah nyata melalui perspektif seorang petugas hotel beretnis Hutu bernama Paul Rusesabagina yang di saat tragedi genosida di Rwanda tengah bergejolak, ia berusaha menyelematkan keluarga, rekan-rekannya dan lebih dari seribu pengungsi beretnis Hutu dan Tutsi dari ancaman pasukan militer Interahamwe yang merupakan sebuah organisasi paramiliter Hutu. Tragedi kemanusiaan di Rwanda kala itu cukup mendapat perhatian komunitas internasional hingga memaksa PBB sebagai organisasi internasional yang berperan menjaga perdamaian dunia turun tangan guna mengembalikan stabilitas di Rwanda.

Meskipun peristiwa memilukan tersebut telah berlalu selama lebih dari dua dekade dan kondisi Rwanda saat ini boleh dikatakan sudah cukup stabil, konflik di Rwanda masih menjadi perbincangan menarik khususnya di kalangan akademisi Hubungan Internasional. Tragedi kemanusiaan di Rwanda kaitannya dengan studi ke-HI-an dapat memberikan pengajaran kepada kita tentang bagaimana disparitas (perbedaan) politik, ekonomi, dan sosial antar kelompok dapat memicu terjadinya konflik, memahami bahwa konflik di Rwanda merupakan kategori tindakan genosida berdasarakan hukum internasional, bagaimana intervensi kemanusiaan oleh PBB itu berkerja, dan tentunya memberikan pemahaman tentang tahapan-tahapan resolusi konflik.

Ketua Umum HMHI Hasbi Asshiddiqi saat ditemui dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa film Hotel Rwanda sangat direkomendasikan oleh para dosen untuk disaksikan oleh segenap mahasiswa Hubungan Internasional. Tidak hanya sekadar untuk menikmati jalan cerita ataupun sinematografinya saja, namun diharapkan mahasiswa HI dapat memetik pelajaran serta menangkap pesan dalam film tersebut sehingga dapat diimplementasikan dalam kegiatan akademik nantinya.

“Film Hotel Rwanda itu memuat banyak sekali subyek dari studi Hubungan Internasional. Dia (Film Hotel Rwanda) menyangkut konflik, resolusi konflik, terus peran negara lain dalam konflik sebuah negara, terus peran PBB, dan bagaimana hubungan antarnegara itu juga ikut terlibat dalam konflik.” Ujarnya.

Seusai pemutaran film dan diselingi dengan coffee break, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dibuka oleh Hasbi. Ide pemutaran film peristiwa ke-HI-an sebagai studi kasus dalam diskusi kali ini nampaknya berhasil mendobrak kuriositas para peserta diskusi. Para peserta diskusi nampak sangat mudah menyerap inti permasalahan dari isu yang tengah dibahas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya antusiasme peserta dari seluruh angkatan untuk menyampaikan argumen serta sudut pandang mereka menganai isu ini. Ada yang berpendapat bahwa tragedi ini muncul akibat kecemburuan sosial, namun tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa ini terjadi akibat tidak adanya tenggang rasa antara kaum mayoritas dengan minorotas. Lalu ada yang mengaitkan isu ini dengan agenda setting  kaum imprealis,  mengaitkannya dengan isu kesetaraan dan keadilan hingga mempertanyakan peran PBB sebagai pemelihara perdamaian.

Meskipun diskusi ini tidak diwarnai dengan adu argumen yang alot, namun setidaknya keberanian para peserta dalam menyampaikan ide, gagasan, serta argumennya mengenai isu yang tengah dibahas dalam forum diskusi semacam ini layak untuk diberi apresiasi.  Khususnya bagi angkatan 2017 yang berani berargumen meski baru mencicipi ilmu-ilmu dasar dari Hubungan Internasional. Setidaknya inilah pujian yang dilontarkan Bapak Ahmad Mubarak Munir yang merupakan satu-satunya perwakilan dosen yang menghadiri kegiatan ini. Beliau juga memuji kinerja panitia yang sukses membuat suasana diskusi tetap kondusif dan berjalan dengan baik. Beliau juga berharap kegiatan semacam IRMD atau forum-forum diskusi lebih sering digalakkan oleh mahasiswa HI UNRAM, mengingat melalui forum diskusilah mahasiswa HI dapat melatih kemampuan berbicara dan berargumentasinya. Selain itu beliau juga menambahkan bahwa melalui forum diskusi mahasiswa HI dapat menyerap ragam ilmu dari berbagai pihak sehingga akan membuat mahasiswa menjadi lebih berpikiran terbuka. Beliau berharap jika kegiatan IRMD rutin diadakan tiap bulannya sebagaimana nama dari kegiatan tersebut. (SH)