Program Studi Hubungan Internasional UNRAM Helat Semnas Kemaritiman

Semnas 1

Menyadari potensi secara geografis sebagai sebuah Archipelagic State dan potensi Sumber Daya Laut yang dimiliki, Presiden Jokowi mencanangkan sebuah konsep Poros Maritim Dunia yang bertujuan mengembalikan kejayaan laut Indonesia. Ditengah Asia Pacific’s Century Indonesia harus mampu menjadi bukan hanya sebagai negara penonton tetapi mempunyai peran besar didalamnya. Sebagai upaya untuk mendukung ide pemerintah dalam menyusun rancang strategis sekaligus menjadi wadah menyalurkan gagasan maka dari hal tersebut program Studi Hubungan Internasional Universitas Mataram bersama dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut (LANAL) Mataram menyelenggarakan Seminar Nasional dengan Tema “Geostrategis Indonesia di Kawasan Asia Pasifik dan Implementasi Poros Maritim”. Seminar nasional ini selenggarakan hari Kamis, 9 November 2017 yang bertempat di Gedung Rektorat Universitas Mataram dengan jumlah peserta sebanyak 263 orang yang terdiri dari pelbagai kalangan diantaranya perwakilan dari TNI AL, TNI AU, Dit Polair Polda NTB, Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan, Pelindo, Dinas Kelautan dan Perikanan prov NTB,  akademisi yaitu dosen dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di NTB dan luar NTB, NGO, stakeholder, hingga guru tingkat sekolah menengah atas se-Pulau Lombok. 

Dalam seminar ini menghadirkan tiga orang pembicara; yaitu yang pertama Panglima Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur: Laksamana Muda TNI Darwanto, S.H., M.A.P. yang diwakilkan oleh Komandan Gugus Keamanan Laut Timur; Kol Laut (P) Agus Hariadi, pembicara kedua seorang pengamat militer dan pertahanan ibu Dr. Connie Rahakundini Bakrie dan narasumber ketiga adalah Dr. Zunnuraini, S.H., M.H. selaku dosen hukum internasional Universitas Mataram.  

Isu kemaritiman bukan hanya menjadi kajian akademisi dalam bidang kelautan dan perikanan, namun semua aspek studi baik ekonomi, sosial dan politik mempunyai kewajiban yang sama untuk memahami konsep negara maritim berikut potensi dan tantangannya. sehingga seminar ini memang diselenggarakan tidak hanya ditujukan untuk akademisi dari prodi Hubungan Internasional saja tetapi untuk semua kalangan yang secara bersama memiliki tugas untuk melihat laut sebagai basis kesejahteraan. 

Kol Laut (P) Agus Haryadi sebagai pemateri dalam seminar ini mengungkapkan bahwa awalnya semboyan Jalesveva Jayamahe yang memiliki makna Di Lautan Kita Berjaya hanyalah semboyan yang berlaku di kalangan TNI Angkatan Laut saja, namun oleh Presiden Jokowi ini dijadikan semacam perintah kepada seluruh pihak untuk bekerja membangun Indonesia dari sektor kemaritiman dan sudah saatnya bagi Indonesia untuk keluar dari orientasi agraris. 

Kolonel Agus juga mengingatkan bahwa pentingnya untuk menjaga stabilitas di kawasan perairan Indonesia mengingat Indonesia memilki 4 Choke Point penting dunia yang merupakan jalur pelayaran internasional, yang salah satunya adalah Selat Lombok. Karena apabila itu sampai terputus semisal diblokade oleh pihak tertentu maka akan sangat mengancam perekonomian Indonesia dan negara-negara industri maju. Untuk itu penting bagi negara kita dapat meningkatkan pertahanan dan keamanan di wilayah perairan.  

Selaras dengan Kol Laut (P) Agus Hariadi, Dr. Connie Rahakundini yang juga mengungkapkan bahwa membangun kekuatan Indonesia di laut merupakan hal yang penting mengingat kepentingan terbesar Indonesia saat ini berada di laut. Mengutip apa yang disampaikan oleh Dr. Connie Rahakundini mengenai pendapat pakar hukum laut bahwa negara maritim tidak sama dengan negara kepulauan, karena negara maritim adalah yang mampu memanfaatkan lautnya meski negara tersebut tidak memiliki laut tetapi didukung dengan kepemilikan ilmu pengetahuan, peralatan, teknnologi, dalam mengelola dan memanfaatkan laut dari sisi ruang, kekayaan alam maupun letak.  

Sebagai tambahan, Ia menegaskan bahwa negara maritim memerlukan angkatan laut yang mumpuni karena dengan hal tersebut Negara akan mampu untuk meredam konflik, memenangkan diplomasi, memenangkan perang sumber daya, dan fokus menjawab hal yang besar. Karena ia meyakini bahwa sebuah negara tidak mungkin menjadi negara yang hebat dan kuat tanpa disokong pembangunan kekuatan militer yang kuat. Dr. Connie juga mengajak seluruh pihak untuk sadar bahwa kita adalah bangsa maritim. Mengingat sejarah panjang nenek moyang bangsa Indonesia mulai dari Sriwijaya hingga Banten dulu sangat berjaya di laut. Untuk itu, perlu bagi kita membangun kesadaran bahwa kembali menjadi bangsa yang besar dengan memaksimalkan potensi sumber daya laut kita, membangun mental dan moral untuk berinovasi menjadi bangsa pemenang yakni bangsa maritim hebat dan digdaya. 

Dengan diadakannya seminar ini selain menjadi ruang ilmu juga diharapkan berbagai elemen masyarakat dapat lebih aktif berpartisipasi untuk membangun kesejahteraan bersama di bidang kemaritiman. Selain itu, seminar ini dapat menjadi inspirasi bagi para akademisi untuk menghasilkan riset-riset terbaru guna menjadi masukan kepada pemerintah untuk menyelesaikan tantangan kemaritiman di Indonesia.

HMHI UNRAM Bahas Isu Kemanusiaan Rwanda Melalui Film dalam Kegiatan International Relations Monthly Discussion

IRMD 1

International Relations Monthly Discussion (IRMD) kembali digelar oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mataram untuk mengundang seluruh civitas akademika Hubungan Internasional UNRAM duduk bersama dalam satu forum membahas isu-isu penting dalam ranah HI. Kegiatan IRMD kali ini digelar pada hari Sabtu, 23 September 2017 di Ruang 3.3, Gedung Soebiyanto, FISIP UNRAM dengan dihadiri oleh sekitar 45 mahahsiswa HI UNRAM dari berbagai angkatan. Namun sayangnya kegiatan IRMD pertama di semester ini hanya dihadiri oleh Bapak Ahmad Mubarak Munir, S.IP., M.A. selaku perwakilan dari pihak dosen. Awalnya kegiatan ini direncanakan dimulai pada pukul 13.00 WITA, namun oleh pihak HMHI terpaksa diundur hingga 13.15 mengingat jumlah peserta yang hadir terlalu sedikit. Meskipun begitu hal tersebut tidak menyurutkan pihak HMHI selaku penyelenggara untuk mempersiapkan kegiatan ini sebaik mungkin.

IRMD bulan ini hadir kembali dengan membawa isu yang sebenarnya tidak terlalu baru namun oleh HMHI  dikemas dengan konsep yang cukup menarik. Para peserta IRMD kembali diajak mengenang tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994 melalui sebuah film keluaran tahun 2004 karya sutradara Irlandia Terry George berjudul Hotel Rwanda. Perlu untuk diketahui bahwa Film Hotel Rwanda diadaptasi dari sebuah kisah nyata melalui perspektif seorang petugas hotel beretnis Hutu bernama Paul Rusesabagina yang di saat tragedi genosida di Rwanda tengah bergejolak, ia berusaha menyelematkan keluarga, rekan-rekannya dan lebih dari seribu pengungsi beretnis Hutu dan Tutsi dari ancaman pasukan militer Interahamwe yang merupakan sebuah organisasi paramiliter Hutu. Tragedi kemanusiaan di Rwanda kala itu cukup mendapat perhatian komunitas internasional hingga memaksa PBB sebagai organisasi internasional yang berperan menjaga perdamaian dunia turun tangan guna mengembalikan stabilitas di Rwanda.

Meskipun peristiwa memilukan tersebut telah berlalu selama lebih dari dua dekade dan kondisi Rwanda saat ini boleh dikatakan sudah cukup stabil, konflik di Rwanda masih menjadi perbincangan menarik khususnya di kalangan akademisi Hubungan Internasional. Tragedi kemanusiaan di Rwanda kaitannya dengan studi ke-HI-an dapat memberikan pengajaran kepada kita tentang bagaimana disparitas (perbedaan) politik, ekonomi, dan sosial antar kelompok dapat memicu terjadinya konflik, memahami bahwa konflik di Rwanda merupakan kategori tindakan genosida berdasarakan hukum internasional, bagaimana intervensi kemanusiaan oleh PBB itu berkerja, dan tentunya memberikan pemahaman tentang tahapan-tahapan resolusi konflik.

Ketua Umum HMHI Hasbi Asshiddiqi saat ditemui dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa film Hotel Rwanda sangat direkomendasikan oleh para dosen untuk disaksikan oleh segenap mahasiswa Hubungan Internasional. Tidak hanya sekadar untuk menikmati jalan cerita ataupun sinematografinya saja, namun diharapkan mahasiswa HI dapat memetik pelajaran serta menangkap pesan dalam film tersebut sehingga dapat diimplementasikan dalam kegiatan akademik nantinya.

“Film Hotel Rwanda itu memuat banyak sekali subyek dari studi Hubungan Internasional. Dia (Film Hotel Rwanda) menyangkut konflik, resolusi konflik, terus peran negara lain dalam konflik sebuah negara, terus peran PBB, dan bagaimana hubungan antarnegara itu juga ikut terlibat dalam konflik.” Ujarnya.

Seusai pemutaran film dan diselingi dengan coffee break, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dibuka oleh Hasbi. Ide pemutaran film peristiwa ke-HI-an sebagai studi kasus dalam diskusi kali ini nampaknya berhasil mendobrak kuriositas para peserta diskusi. Para peserta diskusi nampak sangat mudah menyerap inti permasalahan dari isu yang tengah dibahas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya antusiasme peserta dari seluruh angkatan untuk menyampaikan argumen serta sudut pandang mereka menganai isu ini. Ada yang berpendapat bahwa tragedi ini muncul akibat kecemburuan sosial, namun tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa ini terjadi akibat tidak adanya tenggang rasa antara kaum mayoritas dengan minorotas. Lalu ada yang mengaitkan isu ini dengan agenda setting  kaum imprealis,  mengaitkannya dengan isu kesetaraan dan keadilan hingga mempertanyakan peran PBB sebagai pemelihara perdamaian.

Meskipun diskusi ini tidak diwarnai dengan adu argumen yang alot, namun setidaknya keberanian para peserta dalam menyampaikan ide, gagasan, serta argumennya mengenai isu yang tengah dibahas dalam forum diskusi semacam ini layak untuk diberi apresiasi.  Khususnya bagi angkatan 2017 yang berani berargumen meski baru mencicipi ilmu-ilmu dasar dari Hubungan Internasional. Setidaknya inilah pujian yang dilontarkan Bapak Ahmad Mubarak Munir yang merupakan satu-satunya perwakilan dosen yang menghadiri kegiatan ini. Beliau juga memuji kinerja panitia yang sukses membuat suasana diskusi tetap kondusif dan berjalan dengan baik. Beliau juga berharap kegiatan semacam IRMD atau forum-forum diskusi lebih sering digalakkan oleh mahasiswa HI UNRAM, mengingat melalui forum diskusilah mahasiswa HI dapat melatih kemampuan berbicara dan berargumentasinya. Selain itu beliau juga menambahkan bahwa melalui forum diskusi mahasiswa HI dapat menyerap ragam ilmu dari berbagai pihak sehingga akan membuat mahasiswa menjadi lebih berpikiran terbuka. Beliau berharap jika kegiatan IRMD rutin diadakan tiap bulannya sebagaimana nama dari kegiatan tersebut. (SH)

Event HI UNRAM: Workshop Kepenulisan dan Etika Jurnalistik

WP_20170428_10_01_35_Rich

Jumat, 28 April 2017, Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mataram dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mataram menyelenggarakan kegiatan “Workshop Kepenulisan dan Etika Jurnalistik”. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula Lantai 4 Gedung Soebiyanto Universitas Mataram.

 

Kegiatan tersebut diisi oleh Ir. Rifki Feriandi, M.M. Beliau merupakan penulis aktif Kompasiana dan merupakan penulis Buku “Cara Narsis Bisa Nulis”. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Dosen Prodi HI Unram, Mahasiswa Prodi HI Unram, dan Mahasiswa dari luar prodi HI Unram. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme yang cukup tinggi dari peserta dimana para peserta terlihat sangat aktif bertanya kepada narasumber. Ir. Rifki Feriandi, M.M disela memberi materi juga membagikan buku gratis kepada peserta sebagai bentuk apresiasi. Kegiatan tersebut ditutup dengan kegiatan foto bersama.

 

367433

Membangun Provinsi NTB Melalui Diplomasi

Sarasehan UNRAM

Universitas Mataram bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan sarasehan yang diselenggarakan pada Kamis, 9 Februari 2017 di Gedung Rektorat Universitas Mataram. Kegiatan sarasehan ini diselenggarakan dengan mengangkat tema optimalisasi pembangunan daerah melalui diplomasi Indonesia dalam kerangka kerja sama multilateral. Sebagaimana judul dari kegiatan ini yaitu sarasehan, Universitas Mataram mencoba mempertemukan  sejumlah ahli dan pakar di bidangnya masing-masing agar dapat didengarkan pendapatnya mengenai sejumlah persoalan khususnya yang dihadapi oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat sendiri.

          Narasumber yang turut diundang dalam kegiatan ini adalah di antaranya Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI, Hasan Kleib. Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri RI, Muhsin Syihab. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Provinsi NTB, Ir. Ridwan Syah, Msc, MM, MTP. Dan Wakil Rektor IV Universitas Mataram, Professor Suwardji.

          Acara ini dibuka dengan penyampaian sambutan oleh Prof. Suwardji yang dalam hal ini mewakili Rektor Universitas Mataram yang kebetulan berhalangan hadir di hari tersebut. Dalam sambutannya, Prof. Suwardji mencoba memperkenalkan kepada para tamu undangan mengenai Universitas Mataram serta peran dan prestasi yang dicapai oleh Universitas Mataram terkait dengan pembangunan yang dilaksanakan di tingkat daerah maupun di tingkat nasional.

          Yang bertindak sebagai pembicara kunci dalam acara sarasehan ini adalah direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI, Hasan Kleib. Dalam penyampaiannya, Hasan Kleib berujar bahwa arah kebijakan luar negeri serta diplomasi yang dijalankan Indonesia selama ini merupakan representasi dari kepentingan masyarakat di seluruh Indonesia. Kleib menegaskan bahwa kepentingan yang dimaksud bukan hanya kepentingan masyarakat Jakarta atau Jawa saja, melainkan mencakup kepentingan masyarakat yang ada di Indonesia.

          Hasan Kleib dalam pemaparannya juga turut menyanjung Provinsi Nusa Tenggara Barat atas prestasinya sebagai daerah yang lima tahun berturut-turut menyandang peringkat pertama dalam pencapaian Millennium Development Goals. Menurut Hasan Kleib, kesuksesan Provinsi NTB dalam pencapaian MDGs harus dapat ditularkan ke daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia mengingat tahun 2017 merupakan puncak dari pelaksanaan program MDGs di Indonesia dan segera akan menyongsong pembangunan berbasis SDGs atau Sustainable Development Goals yang akan diimplementasikan hingga tahun 2030.

          Untuk itulah dalam menyukseskan itu semua, tidak dapat hanya diiemban oleh pemerintah Indonesia semata. Kerja sama internasional sangatlah dibutuhkan guna mempercepat pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan kerja, sehingga akan berimbas pada peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

          Nusa Tenggara Barat sendiri sebenarnya memilki proyek investasi potensial yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan meskipun di antara proyek tersbut masih dalam tahap perencanaan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Kepala BAPPEDA Provinsi NTB, Ridwan Syah  bahwa proyek-proyek tersebut di antaranya adalah pembangunan Mandalika Resort di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, pengembangan kawasan minapolitan, pariwisata, dan pertanian di Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Gunung Tambora atau disingkat Samota. Serta proyek ambisius berupa global hub untuk menciptakan Singapura baru di Bandar Kayangan, Lombok Utara yang nantinya akan dijadikan sebagai kawasan pelabuhan internasional, kilang minyak, galangan kapal, serta pusat bisnis dan industri. Ridwan Syah memaparkan bahwa hal tersebut dapat disukseskan dan dapat dikerjasamakan secara bilateral, multilateral, regional maupun internasional.

          Lebih lanjut dielaskan bahwa tugas pemerintah daerah adalah dapat menjamin kemudahan serta mampu menjaga iklim investasi yang kondusif, menjalnakan good governance, menjamin keamanan serta tak luput pula yakni penyediaan infrastruktur yang memadai seperti tersedianya listrik dan juga jaringan jalan raya yang baik.

          Dalam hal ini semua pihak menaruh harapan yang cukup besar kepada Kementerian Luar Negeri serta para duta besar agar mampu memfasilitasi dan mampu mempromosikan potensi-potensi yang terdapat di daerah khusunya NTB kepada dunia luar agar nantinya dapat mewujudkan terjalinnya kerja sama internasional dengan pemeintah Nusa Tenggara Barat. (SH)

           

Penyerangan Klub Malam di Istanbul, Puluhan Tewas.

Gambar : Usatoday.com
Gambar : Usatoday.com

Sebuah klub malam terkenal di Istanbul, Turki saat perayaan malam pergantian tahun.
Penyerang diketahui berbekal senjata laras panjang dan menembak seorang polisi sebelum menyerang Klub Malam Reina sekitar pukul 01.45.
Penyerangan dan pembunuhan ini dikategorikan sebagai serangan teror, Gubernur Istanbul Vasip Sahin melaporkan bahwa terdapat 35 orang tewas dan 40 orang lainnya luka-luka dalam serangan tersebut.
“Pelaku menhujani peluru dengan cara yang sangat kejam dan tanpa ampun kepada orang-orang yang tidak bersalah yang tengah merayakan tahun baru dengan suka cita,” ujar Gubernur Vasip Sahin. Menurut laporan NTV Television, diyakini terdapat lebih dari 500 orang di dalam klub malam tersebut. Saat penyerangan terjadi, banyak pengunjung klub malam panik hingga menyeburkan diri ke perairan Bosphorus demi menyelamatkan diri mereka. Petugas lalu dikerahkan untuk menyelamatkan mereka dari perairan. Keberadaan penyerang tersebut hingga kini belum diketahui. Polisi pasukan khusus dan penjinak bom dikerahkan untuk menyisir setiap sudut klub malam.
Dogan News Agency melaporkan bahwa beberapa saksi mata mengaku mendengar pelaku berbicara dalam bahasa Arab.
Korban yang terluka segera dibawa menggunakan mobil ambulans menuju rumah sakit. Sementara polisi anti huru-hara dan kendaraan lapis baja dikerahkan untuk memblokir area di sekitar klub malam. Para korban penyerangan yang selamat terlihat keluar dari klub malam tersebut dalam keadaan shock. Presiden Barack Obama menyatakan rasa belasungkawanya atas penyerangan tersebut serta mencoba menawarkan bantuan kepada pihak berwenang di Turki. Demikian pernyataan dari pihak Gedung Putih.
“Siang ini, Presiden mendapat penjelasan dari tim keamanan nsionalnya terkait dengan penyerangan di Istanbul,” kata Eric Schultz, juru bicara Gedung Putih.
“Presiden menyatakan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas hilangnya nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Presiden akan mengerahkan timnya untuk menawarkan bantuan kepada otoritas berwenang di Turki sebatas yang dibutuhkan. Presiden berjanji akan terus memantau perkembangan yang terjadi di Turki,” lanjut Eric Schultz. Klub malam tersebut merupakan salah satu tempat paling elit di kota. Memasuki klub malam tersebut terbilang sulit karena harus melalui pemerikasaan penjaga klub malam yang hanya mengizinkan orang-orang elit yang berpakaian bagus saja.
Pemerintah Turki membatasi akses informasi sementara terkait dengan tragedi penyerangan tersebut guna mencegah menyebarnya ketakutan, kepanikan, dan gangguan di masyarakat. Pengamanan tingkat tinggi telah dikerahkan di seluruh kota-kota besar yang ada di Turki. Polisi membatasi arus lalu lintas yang mengarah ke pusat-pusat keramaian di Istanbul maupun di Ankara. Di Istanbul sendiri, pemerintah Turki mengerahkan 17.000 polisi guna mengamankan kota. Beberapa di antara polisi tersebut ada yang menyamar sebagai Santa Klaus, pedagan dan lain sebagainya. Demikian yang dilaporkan kantor berita Anadolu.
Turki saat berada dalam situasi siaga tinggi mengingat tingginya intensitas serangan baru yang dilancarkan oleh kelompok Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) serta kelompok ekstremis Kurdi. Di bulan Desember saja tepatnya pada tanggal 10 Desember 2016 telah terjadi pengeboman ganda di Istanbul setelah berakhirnya pertandingan sepak bola antara Besiktas melawan Bursaspor. Searangan tersebut menargetkan sebuah bus polisi yang diklaim oleh kelompok ekstremis Kurdistan Freedom Falcon bahwa merekalah dalang penyerangan tersebut.
Di bulan Maret tahun lalu juga telah terjadi pengeboman di sebuah pemberhentian bus yang menewaskan 37 orang di kota Ankara. Kelompok militan Kurdi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut Dan pada bulan Juni, terjadi sebuah serangan bom bunuh diri di bandara Istanbul yang menewaskan 45 orang.

Kompetisi Esai “Simposium Internasional PPI – Dunia”

A. Ketentuan Umum
  1. Peserta adalah pelajar Indonesia jenjang diploma (D1/ D2/ D3/ D4) ataupun sarjana (S1/ S2) yang terdaftar aktif di Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta di seluruh dunia.
  2. Naskah esai merupakan hasil karya perseorangan dan  ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar serta belum pernah dipublikasikan (baik media cetak atau elektronik) ataupun diikutsertakan dalam perlombaan lain.
  3. Naskah esai merupakan hasil karya pribadi dan bukan hasil plagiasi.
  4. Peserta hanya diperkenankan mengirim satu naskah esai.
  5. Peseta wajib memilih salah satu dari empat tema berikut:
    • Mengukur kesiapan ekonomi Indonesia terhadap tantangan pasar global.
    • Merespon problem radikalisme agama dan  pengaruhnya terhadap disintegrasi bangsa.
    • Melihat demokrasi Indonesia hari ini dalam hukum dan politiknya.
    • Peran pendidikan dan kebudayaan diera kebebasan informasi.

Informasi lebih lanjut:

http://www.festivalfair.co/2016/02/kompetisi-esai-simposium-internasional.html?m=1

 

Imagine Peace Summer Camp

Imagine Peace Summer Camp

Complete the online application form by 1 March 2016 (23.59).

If you’re aged 17 to 25, eager to help make a change to other people’s lives and believe in the importance of the Olympic values, we invite you to take part in our Imagine Peace Summer Camp and become a member of a community of emerging leaders from around the globe!

In partnership with the International Olympic Truce Centre (IOTC) Opens in a new tab or window. and under the auspices of the United Nations Office on Sport for Development and Peace (UNOSDP) Opens in a new tab or window., we are organising the second Imagine Peace Summer Camp.

Fifty participants from more than fifteen countries from around the world with different cultural and political backgrounds will come together for one week from 24 to 31 July 2016 in Ancient Olympia to take part in a series of educational workshops and sports activities that aim to promote equality and peace, and explore the role of sport in the peaceful resolution of conflict.

More info:

https://www.britishcouncil.gr/en/events/imagine-peace-summer-camp

Telah Dibuka Kembali Program Hibah Bina Desa (PHBD) 2016

Dikti

Berdasarkan surat keluaran RISTEKDIKTI, direktur kemahasiswaan (Didin Wahidin) no. 23/B3.3/KM/2016 pada 22 Januari 2016. Mengenai tawaran Program Hibah Bina Desa (PHBD).

Dalam rangka menumbuhkan rasa peduli mahasiswa untuk berkontribusi kepada masyarakat di desa, Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemristekdikti kembali memberikan tawaran ke berbagai bentuk organisasi mahasiswa baik Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk mengikuti Program Hibah Bina Desa (PHBD) Tahun 2016. Program ini bertujuan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berperan aktif dalam pembangunan, melalui program pengabdian kepada masyarakat.

info lebih lanjut:

http://phbd.dikti.go.id/

Posts navigation

1 2 3 4 5